Cari Blog Ini

Jumat, 25 Februari 2011

Tentang cinta yang aku pikir.......

Seperti apakah cinta?

Percaya deh, aku juga gak mengerti 100% seperti apa itu cinta.

Kamu mungkin saja dengan mudah mendefinisikan cinta, seperti kutipan dibawah ini, yang aku ambil dari Penguin of Madagascar.

“Cinta adalah reaksi kimia dalam otak yang menyebabkan ketagihan dan rasa senang”

Kamu boleh setuju dengan pernyataan diatas, dan kamu juga boleh gak setuju dengan perntaan diatas. Tapi kalau kamu setuju, apa kah kamu yakin pernyataan diatas mampu mewakili seluruh cinta yang pernah kamu rasakan?


Pernyataan diatas boleh dibilang sedikit benar. Karena kemungkinan cinta yang aku derita, bikin aku ketagihan dan senang.

Waktu SMP, aku pernah naksir ketua OSISku . Waktu itu aku gak tau caranya PdKt, jadi aku suka ngikuti dia. Hampir tiap hari, kalo gak ada les dan kalo gak lapar aku ngikuti dari belakang waktu dia pulang sekolah. Aku juga masuk OSIS, aku masuk ekskul yang dia ikuti. Dan aku gak tau kalo caraku ternyata bikin dia benci sama aku.

Rasanya sakit, waktu aku denger dari temenya kalo dia gak suka ama aku. Aku juga tersakiti dengan caranya yang enggan bicara dengan ku. Dia benar-benar menghindari aku. Sampai aku keluar dari sekolah itu, dia tetap menghindariku.

Aku cuma tahu aku suka sama dia, tapi aku gak pernah tau bagaimana caranya buat jadi cewek yang dia suka.

Sekalipun aku suka atau jatuh cinta pada seeseorang aku tak ingin berubah menjadi orang lain. Namun adakah seseorang yang bersedia menerimaku apa adanya. Adakah orang yang merasa tidak terganggu dengan sifat-sifatku. Adakah seseorang yang mampu melengkapi kekuranganku. Adakah seseorang yang bersedia berusaha membuatku merasa cantik. *kedipkedipmata

Cinta yang aku tahu semakin tidak aku mengerti.
Cinta pertamaku pupus. Aku menyerah pada cinta pertamaku karena yang dia butuhkan bukan aku. Yang dia butuhkan adalah orang lain, yang tak lain adalah sahabatku sendiri.

Cinta pertamaku adalah teman sekelasku dari awal masuk SD sampe aku lulus SD . Dan aku gak tau pastinya mulai kapan aku suka sama dia. Aku Cuma terbiasa dia ada di kelasku.

Sebut saja , namanya Azam. Aku merasa dia berbeda. Beberapa teman suka memperolokku, karena bentuk fisikku. Aku berkulit gelap, tomboy, memble kaya omas, tonggos , cengeng dan kalo marah suka gigit orang. Pada akhirnya aku jadi anak yang dikucilin temen-temennya. Namun Azam berbeda, dia gak peduli aku jelek, cengeng dan sebagainya, dia memperlakukan aku layaknya kita berteman. Berteman yang biasa dilakukan anak-anak normal.

Aku suka sama dia, tapi perasaanku gak terbalas karena dia suka sama orang lain. Dia suka sama Viva sahabatku. Dan aku akhirnya menyerah.

Sampai saat ini aku Jomblo. Ada temanku yang kaget dan gak percaya kalo aku gak pernah pacaran, padahal aku sudah hampir 20 tahun. Ada yang ngolokin aku cewek ‘gak laku’ . Ada juga yang bilang aku beruntung, karena aku dilindungi tuhan [!!??].

Sahabatku Vie-vie bilang, lebih baik aku seperti ini, tidak berpacaran, dan aku seharusnya bersyukur. Karena pacaran bakal bikin aku gak konsentrasi belajar.

Apa kata vie-vie sih ada benarnya. Pikiranku mudah di belokkan, dan aku tipe orang yang mudah panik dan emosionaly. Pacar atau bukan, dengan jujur aku ungkapkan bahwa sebenarnya aku butuh seorang laki-laki yang membuat hidupku jadi lebih baik. Atau mungkin sebaliknya. Aku butuh seseorang laki-laki yang hidupnya mau aku bikin lebih baik. Yah, jadi rumit deh. Gampangnya, Aku gak munafik kalo aku butuh laki-laki yang bisa melengkapi hidup ku.

Tidak ada komentar: